Skip to main content

Cuitan saya; Mengapa suka sekali tidur?

Kegiatan belajar-mengajar seyogyanya menjadi kegiatan yang menyenangkan antara guru dengan murid supaya proses transfer ilmu pengetahuan dapat berjalan dengan baik. Namun, proses transfer itu tidak akan berjalan dengan lancar, jika salah satunya mengalami kendala atau tidak punya motivasi sama sekali untuk belajar, maka proses transfer ini pastilah tidak akan berhasil dan akan gagal. 

Proses transfer ini akan berhasil jika guru dan siswa sama-sama mempunyai niat untuk belajar. Guru belajar memperdalam ilmunya, siswa belajar untuk memperoleh ilmu yang baru pertama kali dia pelajari. Saya berani membuat kesimpulan seperti ini karena berdasarkan pengalaman saya mengajar. Siswa yang mempunyai kemauan untuk belajar, akan berusaha aktif, akan berusaha menyerap ilmu yang disampaikan guru, walaupun mungkin siswa itu mengantuk. Berbeda dengan siswa yang kurang atau tidak mempunyai kemauan untuk belajar, dia akan kurang peduli atau bahkan tidak peduli dengan ilmu yang seharusnya diterimanya. Siswa yang tidak mempunyai kemauan bisa saja pulas tidur di kelas. Problematika yang saya alami, mungkin berbeda dengan para pendidik di luar pondok pesantren karena kebetulan saya mengajarnya di lingkungan pondok pesantren. Tetapi, hal ini sepertinya juga berlaku di sekolah umum.

Selama saya mengajar di sekolah dalam lingkungan pondok pesantren, saya merasa jenuh dan jengkel melihat siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar. Dia hanya tidur terus di kelas. Ketika dibangunkan, melek sebentar, kemudian tidur lagi. Bahkan jika saya terpaksa harus menjewer telinganya, tetap melek sebentar dan kemudian tidur lagi. 
Memang guru harus dapat menguasai kelas, mampu membuat belajar itu hidup apapun problematikanya. Mampu membuat anak yang tidak mempunyai motivasi belajar untuk semangat belajar. Namun, jika anaknya tidak ada kemauan belajar sama sekali itu bagaimana?

*Harapan membangun motivasi belajar siswa.*

Ketika saya tanya, 
"Nak, kenapa suka sekali tidur? "Ngantuk pak, tidak bisa tidur semalam." Begitu jawabnya. 
"Nah, sudah tahu kan sekarang waktunya belajar? "Iya pak, tahu." 
Terus saya kembali menjelaskan sedikit materi atau bahkan membuat diskusi kelompok. Anak yang tadi tertidur, kembali tidur (tidak aktif belajar maupun diskusi kelompok).
Hal yang dilakukan saya, mungkin sedikit memotivasi siswa untuk bangkit dari belajar, namun jika motivasi itu gagal dibangun, anak itu akan kembali tertidur. 
Strategi dan media pembelajaran yang kreatif dan tidak membosankan memang dibutuhkan, apalagi di lingkungan pondok pesantren yang memang anak-anak dituntut untuk belajar dari pagi sampai malam. Tetapi konsep kenyamanan dan kasih sayang, kepedulian, strategi, metode maupun media juga harus dibangun supaya anak dapat belajar dengan maksimal, tidak tidur terus sehingga mengubur motivasi belajarnya. Dalam lingkungan pendidikan, semua komponen harus terlibat dan mempunyai motivasi untuk membangun. Sistem penggemblengan, kenyamanan dan sanksi juga harus diterapkan supaya motivasi belajar yang hilang dapat kembali muncul sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik. 

*Faktor motivasi belajar dari guru.*
Jika di atas adalah dari siswanya, menurut saya guru pun harus punya motivasi belajar sepanjang hayat. Guru yang tidak punya motivasi belajar akan memperburuk motivasi yang sudah berusaha dibangun siswa untuk belajar. Saya berikan contoh, guru yang datang terlambat, kemudian melihat siswanya tidur, tanpa berusaha membangunkan, guru tersebut melanjutkan mengajar dengan metode pembelajaran kuno atau jadul, ceramah. Maka, siswa yang tertidur akan selamanya tertidur. Siswa yang punya semangat bisa saja jenuh karena guru yang monoton. Lama-lama jika berulang kejadian itu, maka siswa yang tadinya punya motivasi belajar akan terkikis dan berkurang motivasinya. Apalagi jika gurunya sering tidak datang/izin tidak masuk dan hanya menitipkan tugas ke guru piket. Lama-lama motivasi belajar siswa akan runtuh dan susah untuk membangun kembali. 

Harapan saya ke depan, pembelajaran akan berjalan dengan semestinya, dapat terjalin transfer ilmu yang baik antara guru dan siswa yang sama-sama mempunyai motivasi belajar. Jadi, yok kita para pendidik dan para siswa untuk bangkitkan semangat belajar karena hidup harus senantiasa belajar. Belajar terhenti hanya jika ajal menjemput. 

Comments

Popular posts from this blog

Dahsyatnya Shalat Malam dan Puasa Sunah Daud

Beberapa kali saya mencari kata kunci lewat mesin telusur web, di halaman pencarian "Shalat Tahajud dan Puasa Sunah Daud" saya menemukan pencerahan dan mendapatkan banyak pelajaran karena banyaknya blog dan situs yang membahas amalan ini. Ibadah tersebut adalah dua ibadah yang sering dilakukan oleh Nabi Daud. Beliau bangun di sepertiga malam terakhir dan melaksanakan Shalat kemudian berpuasa sehari berbuka sehari.  Hadis-hadis:  Kaifiat Qiyamullail (Shalat Lail) Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:  مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي “Rasulullah shal...

Arloji hidup Abas

Disudut desa, berdiam diri sesosok pemuda dengan tampang sederhana memandangi sekeliling rumahnya. Tampak murung dan bimbang, serasa dipikiranya tersimpan sejuta getir kehidupan dan keputusasaan. Memang ia telah lima tahun kehilangan kedua orang yang amat dicintai dalam hidupnya, kedua orang tua nya pergi entah kemana, saat orang tuanya pergi ke tanah seberang. Dimana di tanah seberang pada saat itu terdengar kabar miring tentang penjarahan dan penganiayaan. Orang tuanya kesana demi menghidupi keluarganya, tapi memang takdir sudah berkata demikian. Dia mengigau “ buat apa hidup yang tidak ada artinya seperti ini, menjadi anak yang tidak berguna! Jalan hidupku mengapa seperti ini, semua orang tidak peduli dengan keadaanku! aku hanya perampok waktu, peminta-minta dari belas kasih orang, aku tak minta belas kasih orang? Aku hanya minta pengertian banyak orang. Itu cukup buatku bisa tersenyum. Nama anak itu abas, dia bekerja mati-matian sejak berusia 12 ...

Ayolah mulai menulis lagi

Beberapa waktu yang lalu, kawan seperjuangan yang sama-sama mengajar dalam satu sekolah, tiba-tiba mengajak saya untuk menulis. Kawan saya menunjukkan beberapa tulisannya ke saya untuk dikoreksi. Berbicara mengenai kawan yang satu ini, dia adalah kawan terbaik saya selama mengajar di sini, saya menganggap demikian, karena memang demikianlah dia.  Ada banyak rekaman memori bersamanya, berdua bersama ketika ikut tour rombongan sekolah, ataupun ngobrol di suatu waktu, di tengah kesibukan. Walau sebenarnya ya nggak terlalu sibuk. Hehehe. Dialah yang menguatkan di saat terpuruk. Rekaman memori itu masih terekam jelas, terutama saat iseng mencari buku di toko-toko/kios buku bekas karena memang kebetulan hobi kita sama-sama membaca, walau kadang buku yang dibaca nggak tuntas. Dia pernah mengatakan bahwa saya sudah dianggapnya sebagai keluarga karena kita sama-sama datang dari kampung/perantauan. Waktu mencari buku kita jalan kaki sampai puas jalan kaki, ya mungkin hobinya juga jalan kaki....